Senin, 19 November 2012

Cerpen


Sabtu, 14 april 2012


DEWINTA, HALUSINASIKU



Akhirnya hari yang ku tunggu-tunggu datang juga. Hari ini adalah hari terakhir aku menginjakkan kaki di SMP. Aku udah nggak sabar ingin memasuki gedung sekolah yang baru. Sudah bosan aku melihat sekolah ini selama tiga tahun. Aku jadi nggak sabaringin merasakan kehidupan di SMA.
            Dan yang membuat aku semakin bahagia adalah, aku lulus dengan nilai terbaik. Astaga, rasanya aku seperti sedang bermimpi saja. Aku pun bergegas pulang ke rumah ddengan berbekal rasa senang dan puas. Ingin cepat-cepat aku menceritakannya kepada orang tuaku.
            Setibanya aku di rumah, aku bingung karena melihat banyak orang yang berlalu lalang di rumahku. “ Ada apa ya ? “ pikirku dalam hati. Aku memasuki rumahku. Betapa terkejutnya aku, saat ku lihat Ibuku telah terbaring lemah tak bernyawa. “ Ibu…” suaraku lirih memanggil nama Ibuku. Ku dekati tubuh Ibuku yang terkulai lemas. Ayah mendekatiku, “ Mengapa Tuhan tega memisahkan aku dengan Ibu Yah ?” tanyaku pada Ayah. Ayah pun memelukku, dalam pelukan Ayah ku lampiaskan kesedihanku dengan menangis. “ Mengapa kebahagiaan ini hanya sekejap?” tanyaku dalam hati.
            Sore harinya Ibuku di makamkan. Setelah selesai sau persatu orang-orang meninggalkan aku dan Ayah. Aku belutut di samping kuburan Ibuku. “ Bu, Puja akan selalu mengingat Ibu. Puja akan selalu mengenang jasa-jasa Ibu. Puja akan menjadi anak yang baik buat Ibu. Puja sayang sama Ibu. “ kataku sambil menaburi kuburan Ibuku dengan bunga dan linangan airmata. Sungguh aku belum rela kehilangan Ibuku tercinta. Aku ingin menyusul Ibu. Tapi aku tak tega pada Ayah.
            Hari telah menjelang malam, aku dan Ayah pun pulang ke rumah. “ Yah, apa Puja jadi sekolah? “ tanyaku pada Ayah yang memecahkan keheningan antara aku dan Ayah. “ Jadi Ja, Aya telah memilihkan sekolah untukmu. Dan sekolahnya tidak jauh dari sini. Lalu, bagaimana dengan nilamu Ja ? “ Tanya Ayah padaku. Bergegas ku mengambil ijazah, SKHU dan raportku. “ Ini Yah, Puja lulus dengan nilai terbaik. “, kataku sembari menyerahkan ketiga benda tersebut pada Ayah. Setelah selesai melihat, Ayah pun tersenyum padaku dan berkata, “ Tidak sia-sia Ayah menyekolahkanmu Ja. Dan Ayah harap semangatmu belajar masih seperti dulu.” Kata-kata Ayah mengingatkanku pada Ibu. “ Mengapa Ibu ninggalin Puja? Apa ibu nggak sayang sama Puja?” tanyaku dalam hati.  Ayah memelukku, dan mengelus-elus kepalaku. Aku serasa menjadi anak kecil kembali.
            Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa satu bulan aku tak ditemani oleh Ibuku. “ Aku sangat merndukan Ibu Yah. “ kata-kata itu setiap hari ku ucapkan di depan Ayah. Entah bagaimana perasaan Ayah mendengar kata-kataku, tapi aku tak dapat menyimpannya sendiri. Dan aku yakin Ayah pasti mengerti dengan perasaanku.
            Hari ini adlah hari pertamaku sekolah di SMA. Aku ingat benar kata Ibuku jauh-jauh hari  “ Iya Puja, kalau kamu lulus dengan nilai terbaik, ibu yang akan mengantarmu ke sekolah baru.” Itulah kata-kata yang Ibu ucapkan malam kemarinnya sebelum Tuhan memanggil Ibu. Tak terasa air mataku menetes, dan tiba-tiba ku measa seseorang menepuk bahuku, “ Mengapa kau menangis?” Tanya gadis itu ramah. “ Ah, nggak apa-apa kok. “ jawabku sambil mengusap air mata di pipiku. Gadis itu tersenyum padaku, lalu dia berkata “ jangan menangis ya!” suaranya terdengar sangat lembut. Sampai-sampai aku nggak sanggup untuk memnjawab ucapannya. Kembali dia mengumbar senyum di hadapanku, lalu dia pegi meningalkan aku sendiri. Dia pun pergi meninggalkan aku seorang diri lagi. Lonceng terdengar, tanda bahwa siswa berkumpul di lapangan. Bergegas aku beranjak dari tempat aku duduk tadi. Sepintas ku melihat gadis itu lagi, tapi aku tak menghiraukannya. Cepat-cepat aku masuk ke barisan. Setelah mendapatkan pengumuman dan selesai berdo’a, aku dan siswa lainnya pun pulang.
            Jarak sekolah dari rumah memang tidak terlalu jauh. Sehingga aku tidak perlu menaiki angkutan umum. Hanya memerlukan waktu 15 menit saja aku sudah sampai di rumah dengan berjalan kaki. Ya, semenjak kepergian ibu rumah terasa begitu sepi. Tak ada yang ku ajak bercerita tentang kejadian hari ini. Semua hanya ku ungkapkan di buku diary ku saja. Ayahku pulang jam 8 malam. Aku dan ayah hanya dapat mengobrol sebentar, karena aku tahuayah pasti lelah dating dari bekerja dan aku juga harus tidur. “Benar-benar sepi tanpamu Bu…” itu yang ku rasakan setiap hari. Kesepian tanpa kehadiran seorang ibu.
            Hari demi hari berlalu, kelas puntelah di bagikan. Aku mendapatkan kelas 10A yang merupakan kelas unggulan di SMA ini. Senangnya hatiku, ingin sekali aku cepat-cepatpulang dan menceritakan kepada ayah. Seketika aku teringat pada ibu. Aku tak melangkahkan kakiku ke rumah, ku ingin menemui ibuku di pemakaman.
            Setelah sampai, aku mencabuti rumput-rumput yang tumbuh di atas makam ibuku, lalu ku letakkan serangkaian bunga yang ku bawa di atasnyua. “bu, hari ini Puja pembagian kelas. Dan Puja mendapatkan kelasunggulan Bu. Puja harap ibu senang mendengar hal ini,” aku memeluk makam ibuku sambil menangis. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.”Mengapa kamu menangis Puja?”, sapa gadis ramah itu padaku. “ Nggak kenapa-napa kok. Kenapa kamu bisa tahu nama aku ?”, tanyaku pada gadis itusembari ku menatapnya. “Kayaknya ku pernah melihat gadis ini!”, pikirku dalam hati.
“ ku tahu nama kamu saat pembagian kelas tadi. Oh ya, perkenalkan nama aku Dewinta.”
“ oh, nama kamu secantik paras kamu. Nama lengkap aku juga Dewinta.”
“ bukannya nama kamu PUja ?”
“ Iya tapi lengkapnya Puja Dewinta.”
            Dia pun tersenyum padaku. Sungguh manis senyuman Dewinta. Aku dan Dewinta meninggalkan makam Ibuku.
            Di perjalanan pulang aku ngobroll-ngobrol sama Dewinta. Ternyata dia sangat asyik di ajak ngobrol. Karena rumah aku nggak begitu jauh jadi kami hanya dapat mengobrol sebentar saja. Setelah tiba di depan rumahku, aku mengajaknya untuk mampir, tetapi dia menolak dengan halus. Kata-katanya benar-benar enak untuk di dengarkan. Lalu dia pun pamitan untuk pulang. Sebelum aku masuk ke dalam rumah, aku menoleh ke jalan yang di lalui oleh Dewinta. Tapi aku udah nggak melihat dia lagi, padahal di sini cuma ada satu jalan. Nggak mungkin dia secepat itu berjalan ke perempatan yang jaraknya  100 meter dari rumah aku. “ Mustahil! Mana mungkin dia bisa berjalan secepat itu. Atau mungkin dia sedang mampir  di rumah saudaranya sekitar sini.”, kataku dalam hati. Sebenarnya aku agak-agak bingung sich, tapi akumasih berfikir positif aja.
            Keesokan harinya aku terbangun karena kaget mendengar suara lembut itu lagi. “ Puja bangunlah, ayo kita berangkat ke sekolah.” Itulah kata-kata yang membuat mimpiku buyar seketika. Ku usap-usap kedua mataku, lalu ku buka pelan-pelan kedua kelopak mataku. Ku melihat bayangan Dewinta.  Aku pun tersentak kaget, lalu ku usap lagi mataku, namun saat ku melihat ke sekeliling, semuanya kosong. Tak ada apa-apa, “ ach, mungkin hanya halusinasiku saja.”, pikirku dalam hati. Aku pun beranjak dari tempat tidurku. Ku melakukan aktivitas pagiku, yaitu menyapu dan menyiapkan sarapan untuk ayahku tersayang. Setelah itu barulah aku merias diri dan siap-siap untk pergi ke sekolah. Tak lupa sebelum berangkat aku berdo’a terlebih dahulu dan pamitan sama ayahku. Aku pun berangkat sekolah seorang diri. Dan tiba-tiba tangan itu menepuk bahuku lagi. “ Puja, kenapa kamu ninggalin aku?”, kata-katanya terdengar sangat lembut.  “ MAaf! “ . dia hanya membalas dengan senyuman. “ Ibu apakah Ibu tahu kalau aku memiliki seorang teman,yaitu dewinta ?”, tanyaku dalam hati. Karena aku melamun aku nggak tahu kalau ada mobil menabrakku dan aku nggak tahu apa yang terjadi.
Saat ku membuka kedua mataku, ku merasa aneh dengan tempat ini. Rasanyaaku nggak pernah kesini. Dan yang membuat aku nggak menyangka, aku melihat Ibu. “ Ibu…..”,  ku memanggil wanita yang berdiri tidak jauh dari tempatku berdiri. Wanita itu pun menoleh ke arahku dan nggak salah lagi, itu memang ibuku. Aku berlari mendekati wanita itu dan aku emmeluknya. Dia membalas pelukanku, “ Ibu jangan tinggalin puja llagi ya.”, rengekku pada Ibu. “ Puja sayang, apa kautega pada ayahmu. Dia tak ingin kehilanganmusayang. Kembalilah paada ayahmu.”, suara Ibu terdengar sangat lirih. Dan lagi-lagi tangan itu menepuk bahuku dan suara lembutnya pun terdengar kembali. “ Iya Puja, kembalilah pada Ayahmu. Maaf jika aaku telah membuatmu merasa aneh padaku. Aku hanya akan datang jika kau membayangkan kehadiranku. Aku hanya ada dalam dunia imajinasimu. Aku hanya bisa menemanimu dalam halusinasimu Puja.”, Kata-kata Dewinta membuatku kaget, paantas saja jika aku bersedih dia aada di sampingku. Jika ku ingat pada Ibu dia hadir di hadapanku. Tak ku sangka Dewinta hanya halusinasiku semata. Aku baru sadar bahwa aku terlalu larut dalam kesedihan ini. Aku terlalu lemah tanpa Ibu, sehingga membuat berhalusinasi terlalu tinggi. “ Lalu apa yang Puja harus lakukan Bu ?”, tanyaku pada Ibuku. “ Kembalilah pada Ayahmu sayang. Ibu akan selalu memperhatikanmu dari sini. Sekarang pejamkan matamu, sayang.”, tanpa ada komentar lagi aku mengikuti kata-kata Ibuku. Selang beberapa menit kemudian ku buka kembali mataku, dan “ Ayah…”, teriakku pada seorang laki-laki yang berdiri di sampingku. “ Apa yang terjadi padaku Ayah ?”, tanyaku pada Ayah. ‘ kamu di tabrak mobil, sayang.”, jawab ayahku. Aku pun menoleh pada seorang gadis di samping ayah. “ Dewinta….”, spontan ku katakana nama Dewinta di hadapan gadis itu. “ kok Loe tahu nama gue sich? “, tanyanya dengan bingung. Aku tak dapat menjawab pertanyaannya, bibir ku terasa kaku. Hanya air mata yang dapat ku teteskan.
Aku nggak ngerti sama kehidupan ini . entah apa yang terjadi, aku benar-benar nggak ngerti. Apakah yang di hadapanku ini asli atau hanya halusinasi aku juga nggak tahu. Banyak pertanyaan berkecamuk di dadaku. Dan tiba-tiba tangan itu menyentuh tanganku, dan suara lembut itu berubah enjadi lirih ku dengar, “ Puja, maafkan aku. Sekarangkamu menemukan Dewinta asli. Dia nyata dan bukan halusinasimu.” Semakin lama sentuhannya semakin tak terasa dan kata-kata terakhir yang ku dengar hanya selamat tinggal. Tak dapat ku bending lagi, air mata ini terus saja menetes.
            Ayah pun memelukku, dia mengusap air mata di pipiku. “ Ayah, jangan tinggalin Puja ya.” Ayah tersenyum dan berkata, “ Iya sayang, ayah akan selalu ada di sampingmu.” Aku pun tersenyum namun tetap saja air mataku mengalir. “ Maaf ya aku sok tahu nama kamu.” Kataku pada gadis yang bernama Dewinta itu. “ Iya, no problem.” Dia pun tersenyuim padaku dan entah mengapa aku melihat dewinta halusinasi paa diri gadis ini.  “ ibu aku akan menemani Ayah demimu, IBu.”, kataku dalam hati. Dan ku harap ibu mendengar apa yang ku ucapkan.
            Dua hari kemudian aku sudah bisa bersekolah kembali, sekarang tak’kan ada yang menjadi sahabatku. “ semoga Ibu senang melihat keadaanku saat ini.”, do’aku dlam hati. Tiba-tiba tangan itu menepuk bahuku lagi dan suara lembut itu terdengar kembali, “jangan kau khayalkan aku lagi. Karena khayalanmu adalah kehadiranku.” Aku tersentak kaget karena Dewinta telah berada di sampingku. “ Dewinta ?”, ucapku di hadapan Dewinta. “ Iya Ja, nggak usah kaget gitu juga kali. Lebay ach!”, kata-katanya tak lembut dan sangat berbeda dengann Dewinta halusinasi. Aku tertawa mendengar kata-kata Dewinta. “ Dewinta, semooga kau di sana juga bahagia. Maaf ya aku telah mengganggumu.”, kataku dalam hati. Dan kembali tepukan itu terasa di bahuku, suara lembut itu pun terdengar kembali,” iya, Pujaaku akan selalu ada untukmu. Karena aku akan selalu menjadi bagian dalam hidupmu.” Ku melihat Dewinta, dia tersenyu padaku, sangat manis. Aku pun membalas senyumannya dan dewinta akan ku kenang sebagai sahabatku walaupun hanya sebentar saja. Dan hari-hari  sekarang ku lalui halusinasi lagi, tapi dengan kenyataan bahwa Dewinta itu memang ada. Tak’kan ku lupakan kejaddian ini, dan memang mungkin akan selamanya ku bawa Dewinta halusinasi.







                                                                                         By:

Ni Luh Dea Elsa Anggreni

















0 komentar:

Popular Posts

 

APH 1 SMK Giri PendawaRendang is Designed by Ardi Setiawan for SMK Giri Pandawa Bloggerized by TKJ
Thanks to Semua Pihak Yang Telah Membantu | Distributed by APH1 © 2012