Sabtu,
14 april 2012
DEWINTA,
HALUSINASIKU
Akhirnya hari yang ku
tunggu-tunggu datang juga. Hari ini adalah hari terakhir aku menginjakkan kaki
di SMP. Aku udah nggak sabar ingin memasuki gedung sekolah yang baru. Sudah
bosan aku melihat sekolah ini selama tiga tahun. Aku jadi nggak sabaringin
merasakan kehidupan di SMA.
Dan
yang membuat aku semakin bahagia adalah, aku lulus dengan nilai terbaik.
Astaga, rasanya aku seperti sedang bermimpi saja. Aku pun bergegas pulang ke
rumah ddengan berbekal rasa senang dan puas. Ingin cepat-cepat aku
menceritakannya kepada orang tuaku.
Setibanya
aku di rumah, aku bingung karena melihat banyak orang yang berlalu lalang di
rumahku. “ Ada apa ya ? “ pikirku dalam hati. Aku memasuki rumahku. Betapa
terkejutnya aku, saat ku lihat Ibuku telah terbaring lemah tak bernyawa. “
Ibu…” suaraku lirih memanggil nama Ibuku. Ku dekati tubuh Ibuku yang terkulai
lemas. Ayah mendekatiku, “ Mengapa Tuhan tega memisahkan aku dengan Ibu Yah ?”
tanyaku pada Ayah. Ayah pun memelukku, dalam pelukan Ayah ku lampiaskan
kesedihanku dengan menangis. “ Mengapa kebahagiaan ini hanya sekejap?” tanyaku
dalam hati.
Sore
harinya Ibuku di makamkan. Setelah selesai sau persatu orang-orang meninggalkan
aku dan Ayah. Aku belutut di samping kuburan Ibuku. “ Bu, Puja akan selalu mengingat
Ibu. Puja akan selalu mengenang jasa-jasa Ibu. Puja akan menjadi anak yang baik
buat Ibu. Puja sayang sama Ibu. “ kataku sambil menaburi kuburan Ibuku dengan
bunga dan linangan airmata. Sungguh aku belum rela kehilangan Ibuku tercinta.
Aku ingin menyusul Ibu. Tapi aku tak tega pada Ayah.
Hari
telah menjelang malam, aku dan Ayah pun pulang ke rumah. “ Yah, apa Puja jadi
sekolah? “ tanyaku pada Ayah yang memecahkan keheningan antara aku dan Ayah. “
Jadi Ja, Aya telah memilihkan sekolah untukmu. Dan sekolahnya tidak jauh dari
sini. Lalu, bagaimana dengan nilamu Ja ? “ Tanya Ayah padaku. Bergegas ku
mengambil ijazah, SKHU dan raportku. “ Ini Yah, Puja lulus dengan nilai
terbaik. “, kataku sembari menyerahkan ketiga benda tersebut pada Ayah. Setelah
selesai melihat, Ayah pun tersenyum padaku dan berkata, “ Tidak sia-sia Ayah
menyekolahkanmu Ja. Dan Ayah harap semangatmu belajar masih seperti dulu.”
Kata-kata Ayah mengingatkanku pada Ibu. “ Mengapa Ibu ninggalin Puja? Apa ibu nggak
sayang sama Puja?” tanyaku dalam hati.
Ayah memelukku, dan mengelus-elus kepalaku. Aku serasa menjadi anak
kecil kembali.
Waktu
begitu cepat berlalu. Tak terasa satu bulan aku tak ditemani oleh Ibuku. “ Aku
sangat merndukan Ibu Yah. “ kata-kata itu setiap hari ku ucapkan di depan Ayah.
Entah bagaimana perasaan Ayah mendengar kata-kataku, tapi aku tak dapat
menyimpannya sendiri. Dan aku yakin Ayah pasti mengerti dengan perasaanku.
Hari
ini adlah hari pertamaku sekolah di SMA. Aku ingat benar kata Ibuku jauh-jauh
hari “ Iya Puja, kalau kamu lulus dengan
nilai terbaik, ibu yang akan mengantarmu ke sekolah baru.” Itulah kata-kata
yang Ibu ucapkan malam kemarinnya sebelum Tuhan memanggil Ibu. Tak terasa air
mataku menetes, dan tiba-tiba ku measa seseorang menepuk bahuku, “ Mengapa kau
menangis?” Tanya gadis itu ramah. “ Ah, nggak apa-apa kok. “ jawabku sambil
mengusap air mata di pipiku. Gadis itu tersenyum padaku, lalu dia berkata “
jangan menangis ya!” suaranya terdengar sangat lembut. Sampai-sampai aku nggak
sanggup untuk memnjawab ucapannya. Kembali dia mengumbar senyum di hadapanku,
lalu dia pegi meningalkan aku sendiri. Dia pun pergi meninggalkan aku seorang
diri lagi. Lonceng terdengar, tanda bahwa siswa berkumpul di lapangan. Bergegas
aku beranjak dari tempat aku duduk tadi. Sepintas ku melihat gadis itu lagi,
tapi aku tak menghiraukannya. Cepat-cepat aku masuk ke barisan. Setelah
mendapatkan pengumuman dan selesai berdo’a, aku dan siswa lainnya pun pulang.
Jarak
sekolah dari rumah memang tidak terlalu jauh. Sehingga aku tidak perlu menaiki
angkutan umum. Hanya memerlukan waktu 15 menit saja aku sudah sampai di rumah
dengan berjalan kaki. Ya, semenjak kepergian ibu rumah terasa begitu sepi. Tak
ada yang ku ajak bercerita tentang kejadian hari ini. Semua hanya ku ungkapkan
di buku diary ku saja. Ayahku pulang jam 8 malam. Aku dan ayah hanya dapat
mengobrol sebentar, karena aku tahuayah pasti lelah dating dari bekerja dan aku
juga harus tidur. “Benar-benar sepi tanpamu Bu…” itu yang ku rasakan setiap
hari. Kesepian tanpa kehadiran seorang ibu.
Hari
demi hari berlalu, kelas puntelah di bagikan. Aku mendapatkan kelas 10A yang
merupakan kelas unggulan di SMA ini. Senangnya hatiku, ingin sekali aku
cepat-cepatpulang dan menceritakan kepada ayah. Seketika aku teringat pada ibu.
Aku tak melangkahkan kakiku ke rumah, ku ingin menemui ibuku di pemakaman.
Setelah
sampai, aku mencabuti rumput-rumput yang tumbuh di atas makam ibuku, lalu ku
letakkan serangkaian bunga yang ku bawa di atasnyua. “bu, hari ini Puja
pembagian kelas. Dan Puja mendapatkan kelasunggulan Bu. Puja harap ibu senang
mendengar hal ini,” aku memeluk makam ibuku sambil menangis. Tiba-tiba
seseorang menepuk bahuku.”Mengapa kamu menangis Puja?”, sapa gadis ramah itu
padaku. “ Nggak kenapa-napa kok. Kenapa kamu bisa tahu nama aku ?”, tanyaku
pada gadis itusembari ku menatapnya. “Kayaknya ku pernah melihat gadis ini!”,
pikirku dalam hati.
“ ku tahu nama kamu saat pembagian kelas tadi. Oh
ya, perkenalkan nama aku Dewinta.”
“ oh, nama kamu secantik paras kamu. Nama lengkap aku juga Dewinta.”
“ oh, nama kamu secantik paras kamu. Nama lengkap aku juga Dewinta.”
“ bukannya nama kamu PUja ?”
“ Iya tapi lengkapnya Puja Dewinta.”
Dia
pun tersenyum padaku. Sungguh manis senyuman Dewinta. Aku dan Dewinta
meninggalkan makam Ibuku.
Di
perjalanan pulang aku ngobroll-ngobrol sama Dewinta. Ternyata dia sangat asyik
di ajak ngobrol. Karena rumah aku nggak begitu jauh jadi kami hanya dapat
mengobrol sebentar saja. Setelah tiba di depan rumahku, aku mengajaknya untuk
mampir, tetapi dia menolak dengan halus. Kata-katanya benar-benar enak untuk di
dengarkan. Lalu dia pun pamitan untuk pulang. Sebelum aku masuk ke dalam rumah,
aku menoleh ke jalan yang di lalui oleh Dewinta. Tapi aku udah nggak melihat
dia lagi, padahal di sini cuma ada satu jalan. Nggak mungkin dia secepat itu
berjalan ke perempatan yang jaraknya 100
meter dari rumah aku. “ Mustahil! Mana mungkin dia bisa berjalan secepat itu.
Atau mungkin dia sedang mampir di rumah
saudaranya sekitar sini.”, kataku dalam hati. Sebenarnya aku agak-agak bingung
sich, tapi akumasih berfikir positif aja.
Keesokan
harinya aku terbangun karena kaget mendengar suara lembut itu lagi. “ Puja
bangunlah, ayo kita berangkat ke sekolah.” Itulah kata-kata yang membuat
mimpiku buyar seketika. Ku usap-usap kedua mataku, lalu ku buka pelan-pelan
kedua kelopak mataku. Ku melihat bayangan Dewinta. Aku pun tersentak kaget, lalu ku usap lagi
mataku, namun saat ku melihat ke sekeliling, semuanya kosong. Tak ada apa-apa,
“ ach, mungkin hanya halusinasiku saja.”, pikirku dalam hati. Aku pun beranjak
dari tempat tidurku. Ku melakukan aktivitas pagiku, yaitu menyapu dan
menyiapkan sarapan untuk ayahku tersayang. Setelah itu barulah aku merias diri
dan siap-siap untk pergi ke sekolah. Tak lupa sebelum berangkat aku berdo’a
terlebih dahulu dan pamitan sama ayahku. Aku pun berangkat sekolah seorang
diri. Dan tiba-tiba tangan itu menepuk bahuku lagi. “ Puja, kenapa kamu
ninggalin aku?”, kata-katanya terdengar sangat lembut. “ MAaf! “ . dia hanya membalas dengan
senyuman. “ Ibu apakah Ibu tahu kalau aku memiliki seorang teman,yaitu dewinta
?”, tanyaku dalam hati. Karena aku melamun aku nggak tahu kalau ada mobil
menabrakku dan aku nggak tahu apa yang terjadi.
Saat ku membuka kedua mataku, ku merasa aneh dengan
tempat ini. Rasanyaaku nggak pernah kesini. Dan yang membuat aku nggak
menyangka, aku melihat Ibu. “ Ibu…..”,
ku memanggil wanita yang berdiri tidak jauh dari tempatku berdiri.
Wanita itu pun menoleh ke arahku dan nggak salah lagi, itu memang ibuku. Aku
berlari mendekati wanita itu dan aku emmeluknya. Dia membalas pelukanku, “ Ibu
jangan tinggalin puja llagi ya.”, rengekku pada Ibu. “ Puja sayang, apa kautega
pada ayahmu. Dia tak ingin kehilanganmusayang. Kembalilah paada ayahmu.”, suara
Ibu terdengar sangat lirih. Dan lagi-lagi tangan itu menepuk bahuku dan suara
lembutnya pun terdengar kembali. “ Iya Puja, kembalilah pada Ayahmu. Maaf jika
aaku telah membuatmu merasa aneh padaku. Aku hanya akan datang jika kau
membayangkan kehadiranku. Aku hanya ada dalam dunia imajinasimu. Aku hanya bisa
menemanimu dalam halusinasimu Puja.”, Kata-kata Dewinta membuatku kaget,
paantas saja jika aku bersedih dia aada di sampingku. Jika ku ingat pada Ibu
dia hadir di hadapanku. Tak ku sangka Dewinta hanya halusinasiku semata. Aku
baru sadar bahwa aku terlalu larut dalam kesedihan ini. Aku terlalu lemah tanpa
Ibu, sehingga membuat berhalusinasi terlalu tinggi. “ Lalu apa yang Puja harus
lakukan Bu ?”, tanyaku pada Ibuku. “ Kembalilah pada Ayahmu sayang. Ibu akan
selalu memperhatikanmu dari sini. Sekarang pejamkan matamu, sayang.”, tanpa ada
komentar lagi aku mengikuti kata-kata Ibuku. Selang beberapa menit kemudian ku
buka kembali mataku, dan “ Ayah…”, teriakku pada seorang laki-laki yang berdiri
di sampingku. “ Apa yang terjadi padaku Ayah ?”, tanyaku pada Ayah. ‘ kamu di
tabrak mobil, sayang.”, jawab ayahku. Aku pun menoleh pada seorang gadis di
samping ayah. “ Dewinta….”, spontan ku katakana nama Dewinta di hadapan gadis
itu. “ kok Loe tahu nama gue sich? “, tanyanya dengan bingung. Aku tak dapat
menjawab pertanyaannya, bibir ku terasa kaku. Hanya air mata yang dapat ku
teteskan.
Aku nggak ngerti sama
kehidupan ini . entah apa yang terjadi, aku benar-benar nggak ngerti. Apakah
yang di hadapanku ini asli atau hanya halusinasi aku juga nggak tahu. Banyak pertanyaan
berkecamuk di dadaku. Dan tiba-tiba tangan itu menyentuh tanganku, dan suara
lembut itu berubah enjadi lirih ku dengar, “ Puja, maafkan aku. Sekarangkamu
menemukan Dewinta asli. Dia nyata dan bukan halusinasimu.” Semakin lama
sentuhannya semakin tak terasa dan kata-kata terakhir yang ku dengar hanya
selamat tinggal. Tak dapat ku bending lagi, air mata ini terus saja menetes.
Ayah pun memelukku, dia mengusap air mata di pipiku. “
Ayah, jangan tinggalin Puja ya.” Ayah tersenyum dan berkata, “ Iya sayang, ayah
akan selalu ada di sampingmu.” Aku pun tersenyum namun tetap saja air mataku
mengalir. “ Maaf ya aku sok tahu nama kamu.” Kataku pada gadis yang bernama
Dewinta itu. “ Iya, no problem.” Dia pun tersenyuim padaku dan entah mengapa
aku melihat dewinta halusinasi paa diri gadis ini. “ ibu aku akan menemani Ayah demimu, IBu.”,
kataku dalam hati. Dan ku harap ibu mendengar apa yang ku ucapkan.
Dua hari kemudian aku sudah bisa bersekolah kembali,
sekarang tak’kan ada yang menjadi sahabatku. “ semoga Ibu senang melihat
keadaanku saat ini.”, do’aku dlam hati. Tiba-tiba tangan itu menepuk bahuku
lagi dan suara lembut itu terdengar kembali, “jangan kau khayalkan aku lagi.
Karena khayalanmu adalah kehadiranku.” Aku tersentak kaget karena Dewinta telah
berada di sampingku. “ Dewinta ?”, ucapku di hadapan Dewinta. “ Iya Ja, nggak
usah kaget gitu juga kali. Lebay ach!”, kata-katanya tak lembut dan sangat
berbeda dengann Dewinta halusinasi. Aku tertawa mendengar kata-kata Dewinta. “
Dewinta, semooga kau di sana juga bahagia. Maaf ya aku telah mengganggumu.”,
kataku dalam hati. Dan kembali tepukan itu terasa di bahuku, suara lembut itu
pun terdengar kembali,” iya, Pujaaku akan selalu ada untukmu. Karena aku akan
selalu menjadi bagian dalam hidupmu.” Ku melihat Dewinta, dia tersenyu padaku,
sangat manis. Aku pun membalas senyumannya dan dewinta akan ku kenang sebagai
sahabatku walaupun hanya sebentar saja. Dan hari-hari sekarang ku lalui halusinasi lagi, tapi
dengan kenyataan bahwa Dewinta itu memang ada. Tak’kan ku lupakan kejaddian
ini, dan memang mungkin akan selamanya ku bawa Dewinta halusinasi.
By:
Ni
Luh Dea Elsa Anggreni
16.28
AST Tour Driver Bali
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar