“Boleh
minta tolong nggak?” Ucap seorang pria yang tak asing lagi bagiku. Dan memang
tak salah lagi, dia Marta mantan aku.
“Minta
tolong apa?” Jawabku ketus padanya.
“Buatin
aku tugas ya Dhe?” Ucapnya padaku.
Dalam hati aku merasa kesal
dengannya, karena dia menghampiriku cuma minta tolong buat tugas.
“Tugas
apa?”
“ Bahasa Indonesia.”
“ Bahasa Indonesia.”
“Iya,
kalau aku bisa.”
Ucapku pada Merta, lalu ku
meninggalkannya yang sebenarnya belum selesai berbicara. “Ngapain aku buatin
dia tugas, emang dia pikir aku pembantunya apa? Kalau nggak penting nggak
ngomong. Nyebelin!”, ucapku dalam hati menuju tempat dudukku.
“Kenapa
Dhe?”, sapa Nivha yang baru saja datang.
“Kesel
aku sama dia Vha.”
“Udahlah
nggak usah dipikirin. Toh dia juga nggak mikirin kamu.”
“Tapi,
buk......”
“Udahlah,
mending ke kantin yuk!”
Tak jadi aku melanjutkan ucapanku,
karena Nivha telah terlanjur menarik tanganku. Tak
terasa hari ini begitu cepat berlalu, tinggal menunggu beberapa menit lagi aku
akan mengakhiri pelajaran yang membosankan ini. Tapi aku nggak akan melihat
Merta lagi ntar.
Malam tiba, seperti biasa aku selalu
belajar sambil mendengarkan radio kesayanganku. Lalu satu pesan masuk di handphoneku dan benar dugaanku, itu
pesan dari Merta.
“Dhe,
aku minta tolong banget sama kamu. Buatin aku tugas Bahassa Indonesia ya,
please!”
Sebenarnya aku ingin menolak, tapi entah mengapa hati ini berbeda
pendapat denganku. Dan tanpa ku sadari, ternyata aku mengiyakan keinginan
Merta. Sehingga aku harus membuatkan dia tugas.
“Kenapa kamu mau disuruh sama dia
Dhe? Bodoh kamu Dhe! Kenapa kamu masih mengharapkannya? Lupakan dia Dhe,
lupakan!”, ucapku sambil meratapi nasibku kini yang telah di perbudak oleh
cinta.
Semenjak aku diputusin sama Merta,
aku merasa terpuruk. Terutama karena aku harus melihatnya setiap hari, yang
semakin membuat aku susah untuk melupakannya. Terkadang aku benci dengan rasa
yang ku miliki, karena perasaan ini aku selalu merasa sakit.
Hari ini,sesuai dengan janjiku pada
Merta, aku menyerahkan tugas itu padanya.
“Dhe,
udah selesai kan?”
“Udah,
nih!”
Dia mengambil selembar kertas di
tanganku dan dia mengucapkan terima kasih padaku, yang sebenarnya bukan kata
yang ku harapkan. Aku hanya menganggukkan kepalaku sambil berpura-pura mencari
sesuatu di dalam tasku, yang kugunakan sebagai alasan untuk tak melihat
wajahnya yang akan membuatku semakin sakit. Walaupun saat mendapat pelajaran
atau sedang istirahat aku sering memperhatikannya dari jauh. Entahlah, tapi
mungkin ini yang namanya cinta.
Sore telah menjelang dan waktu
sekolah pun telah usai. Seperti biasa, aku keluar kelas terbelakang. Bukan
karena aku malas, tetapi aku selalu memperhatikannya sampai dia di barisan.
Namun yang terjadi kini, dia tak berada di jalan itu. Dengan berbekal sedikit
rasa kekecewaan karena tak menemukannya, aku berlalu dari jendela itu.saat ku
luruskan pandanganku,ternyata dia telah berada dihadapanku dan dia langsung
memegang tanganku.
“Apa
maksud kamu dengan SMS ini?” Ucapnya sambil menunjukan pesan yang ku kirim tadi
siang padanya.
“Nggak
ada?” Jawabku singkat, lalu melepas tangannya yang memegang tanganku.
Sebanernya aku ingin meenggenggam
erat tangannya, tapi dia bukanlah siapa-siapa. Dan itu pasti akan hanya membuat
aku semakin merasa sakit. Begitu pedih yang aku rasakan karena harus menahan
perasaan ini sendiri. Dan aku tak tahu, apakah dia tahu tentang apa yang sedang
aku rasakan padanya.
By : Dhea elsa anggreni
Smk giri pandawa
01.12
AST Tour Driver Bali
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar