Rabu, 05 Desember 2012

AKU DAN PERASAAN INI


“Boleh minta tolong nggak?” Ucap seorang pria yang tak asing lagi bagiku. Dan memang tak salah lagi, dia Marta mantan  aku.
“Minta tolong apa?” Jawabku ketus padanya.
“Buatin aku tugas ya Dhe?”  Ucapnya padaku.
            Dalam hati aku merasa kesal dengannya, karena dia menghampiriku cuma minta tolong buat tugas.

“Tugas apa?”
“ Bahasa Indonesia.”
“Iya, kalau aku bisa.”
            Ucapku pada Merta, lalu ku meninggalkannya yang sebenarnya belum selesai berbicara. “Ngapain aku buatin dia tugas, emang dia pikir aku pembantunya apa? Kalau nggak penting nggak ngomong. Nyebelin!”, ucapku dalam hati menuju tempat dudukku.
“Kenapa Dhe?”, sapa Nivha yang baru saja datang.
“Kesel aku sama dia Vha.”
“Udahlah nggak usah dipikirin. Toh dia juga nggak mikirin kamu.”
“Tapi, buk......”
“Udahlah, mending ke kantin yuk!”
            Tak jadi aku melanjutkan ucapanku, karena Nivha telah terlanjur menarik tanganku.           Tak terasa hari ini begitu cepat berlalu, tinggal menunggu beberapa menit lagi aku akan mengakhiri pelajaran yang membosankan ini. Tapi aku nggak akan melihat Merta lagi ntar.
            Malam tiba, seperti biasa aku selalu belajar sambil mendengarkan radio kesayanganku. Lalu satu pesan masuk di handphoneku dan benar dugaanku, itu pesan dari Merta.
“Dhe, aku minta tolong banget sama kamu. Buatin aku tugas Bahassa Indonesia ya, please!”
            Sebenarnya aku ingin  menolak, tapi entah mengapa hati ini berbeda pendapat denganku. Dan tanpa ku sadari, ternyata aku mengiyakan keinginan Merta. Sehingga aku harus membuatkan dia tugas.
            “Kenapa kamu mau disuruh sama dia Dhe? Bodoh kamu Dhe! Kenapa kamu masih mengharapkannya? Lupakan dia Dhe, lupakan!”, ucapku sambil meratapi nasibku kini yang telah di perbudak oleh cinta.
            Semenjak aku diputusin sama Merta, aku merasa terpuruk. Terutama karena aku harus melihatnya setiap hari, yang semakin membuat aku susah untuk melupakannya. Terkadang aku benci dengan rasa yang ku miliki, karena perasaan ini aku selalu merasa sakit.
            Hari ini,sesuai dengan janjiku pada Merta, aku menyerahkan tugas itu padanya.
“Dhe, udah selesai kan?”
“Udah, nih!”
            Dia mengambil selembar kertas di tanganku dan dia mengucapkan terima kasih padaku, yang sebenarnya bukan kata yang ku harapkan. Aku hanya menganggukkan kepalaku sambil berpura-pura mencari sesuatu di dalam tasku, yang kugunakan sebagai alasan untuk tak melihat wajahnya yang akan membuatku semakin sakit. Walaupun saat mendapat pelajaran atau sedang istirahat aku sering memperhatikannya dari jauh. Entahlah, tapi mungkin ini yang namanya cinta.
            Sore telah menjelang dan waktu sekolah pun telah usai. Seperti biasa, aku keluar kelas terbelakang. Bukan karena aku malas, tetapi aku selalu memperhatikannya sampai dia di barisan. Namun yang terjadi kini, dia tak berada di jalan itu. Dengan berbekal sedikit rasa kekecewaan karena tak menemukannya, aku berlalu dari jendela itu.saat ku luruskan pandanganku,ternyata dia telah berada dihadapanku dan dia langsung memegang tanganku.
“Apa maksud kamu dengan SMS ini?” Ucapnya sambil menunjukan pesan yang ku kirim tadi siang padanya.
“Nggak ada?” Jawabku singkat, lalu melepas tangannya yang memegang tanganku.
            Sebanernya aku ingin meenggenggam erat tangannya, tapi dia bukanlah siapa-siapa. Dan itu pasti akan hanya membuat aku semakin merasa sakit. Begitu pedih yang aku rasakan karena harus menahan perasaan ini sendiri. Dan aku tak tahu, apakah dia tahu tentang apa yang sedang aku rasakan padanya.




By : Dhea elsa anggreni
Smk giri pandawa





0 komentar:

Popular Posts

 

APH 1 SMK Giri PendawaRendang is Designed by Ardi Setiawan for SMK Giri Pandawa Bloggerized by TKJ
Thanks to Semua Pihak Yang Telah Membantu | Distributed by APH1 © 2012