Selasa, 25 Desember
2012
KAKAKKU
SAYANG
Riko, sesosok kakak yang begitu baik buat
aku. Dia selalu menemani aku dalam suka maupun duka. Dia juga selalu membantu
aku melewati masalah-masalah aku. Terutama masalah cinta.
Sebenarnya Kak Riko itu bukanlah kakak
kandung aku. Tapi, aku sayang banget sama dia. Rasanya dia itu emang udah aku
kenal dekat dari kecil. Dia selalu mengerti dengan keadaan aku. Padahal saat
dulu aku dan dia masih di bangku Sekolah Dasar, aku dan dia musuh berat. Tapi
aku nggak nyangka aja, semakin kami beranjak remaja, aku dan dia malah jadi
akur dan dekat banget. Kalau ada masalah pasti aku selalu cerita padanya. Dan
seperti biasanya, dia akan memberikan aku solusi.
Sekarang aku udah duduk di bangku kelas 2
SMK. Sedangkan Kak Riko nggak melanjutkan sekolahnya, dan dia sekarang udah
bekerja di salah satu lembaga di desaku. Untung saja jarak rumahku dengan
rumahnya dekat. Jadi setiap ku mau curhat, aku bisa datang ke rumahnya.
Suatu hari, aku pun dilanda galau. Datang dari
sekolah aku langsung pamitan sama Ibuku dan menuju rumah Kak Riko.
“Kak
Riko…”, teriakku saat sampai dirumahnya.
“Ada
apa sich adikku sayang?”, jawab Kak Riko dari dalam kamarnya.
“Ganggu
nggak Kak?”, tanyaku padanya.
“Nggak
kok. Udah masuk aja.”, jawab Kak Riko.
Aku pun langsung menuju kamar Kak Riko.
“Ibunya
kakak dimana?”
“Lagi
di ladang. Eka kesini mau cari Ibunya Kakak?”
“Nggak
sih Kak.”
“Terus
mau ngapain? Mau dibuatin tugas ya?”
“Nggak
ah Kak. Eka Cuma mau lancong aja.”
“Wich,
sejak kapan ya Adikku mau lancong ke sini?”
“Ih
Kak Riko kok gitu. Aku kan sering kesini?”
“Iya,
kalau nggak belanja, minta dibuatin tugas, hahahahaha”
“Ya
udah deh, kalau gitu Eka mau pulang aja.”
“Hehe,
bercanda Ka. Gitu aja ngambek. Dasar anak kecil!”
“Ya,
akukan emang masih kecil Kak. Baru 10 tahun.”
“Ya,
tapi 5 tahun yang lalu.”
“Hehe,
ya ya ya.”
“Terus
mau ngapain kesini?”
“Mau
curhat nih Kak.”
“Oh,
ya udah.”
“Kok
ya udah sich?”
“Ya
terus mau ngomong apa lagi Ka.”
“Ih,
nggak seru!”
“Duh,
cantiknya adikku kalau lagi cemberut.”
“Nyebelin
ach!”
“Ya,ya
sekarang kakak serius dech. Emang kenapa adikku sayang ? Pasti gara-gara mantan
kamu itu lagi ya?”
“Ya
Kak, siapa lagi?”
“Emang
seganteng apa sih dia sampai buat kamu kayak gini? Pastinya kakak lebih ganteng
dong? Hehe.”
“Duh,
PD-nya, kakak sih 10 kali lipat lebih jelek dari dia. Hahahahahaha”
“Ya
dech. Jadi curhat nggak nich?”
“Jadi
dong Kak.”
Aku
pun langsung menceritakan semuanya pada Kak Riko. Semua masalahku dengan Arta,
kalau sebenarnya dulu Arta pacaran sama aku karena dia ingin manfaatin aku.
“Kurang
ajar banget sih itu cowok. Berani banget nyakitin hati adikku. Buat masalah
nih!”
“Udahlah
Kak, biarkan nanti Tuhan yang akan membalas sikapnya.”
“Sabar
ya dik. Masih banyak cowok lain yang lebih ganteng ya kayak kakak ini. Hehehe.”
“What?
Kayak kakak? Nggak dech!”
“Udah,
jangan dipikirin ya Ka. Ntar kamu sakit lagi. Mending belajar yang rajin, biar
sukses.”
“Ok
kak. Oh ya, gimana hubungan kakak sama Ani?”
“Baik-baik
aja kok.”
“Oh
ya udah. Aku mau pulang dulu ya Kak. Udah malam.”
“Mau
kakak antar?”
“Nggak
usah Kak. Thank’z!”
Ku
berlalu dari rumah Kak Riko. Andai saja dia saudara kandung aku. Pastinya kan
seru.
Suatu
hari di sekolah, Ani, sahabatku yang juga merupakan pacar Kak Riko
menghampiriku dengan raut muka yang nggak seperti biasanya.
“Say,
aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Ngomong
aja say.”
“Jujur
aku nggak kuat pendam hal ini sendirian say.”
Aku
pun berbalik arah, kemudian memegang tangannya lalu menatap wajahnya yang
tampak sedih.
“Kenapa
say? Kamu berantem sama Kak Riko?”
“Nggak
say.”
Ani memegang tanganku lalu memperlihatkan
SMS dari Kak Riko padaku.
“What?
Ini bercanda kan say?“
“Ini
serius say. Awalnya pun aku berfikitr kalau dia membohongi aku. Tapi dia bilang
ini serius.”
“Terus,
kenapa dia nggak bilang sama aku say?”, ucapku sambil menangis.
“Dia
nggak ingin kamu tahu tentang sakitnya say. Tapi kamu janji ya, kamu nggak akan
bilang sama siapa-siapa.”
“Iya
say, aku janji.”
“Udah,
jangan nangis terus. Gurunya datang say.”
Aku menganggukkan kepalaku.
“Ku
mohon juga, kamu jangan bilang sama dia ya say.”
“Ya
say.”
Setelah
itu, Ani meninggalkan bangkuku dan kami pun mengikuti pelajaran sebagaimana
mestinya.
“Kenapa
ya Kak Riko nggak bilang sama aku?”, pikirku dalam hati.
Jujur,
sebenarnya semenjak Kak Riko pacaran sama Ani, aku merasa Kak Riko semakin jauh
dari aku. Dia nggak seperhatian dulu sama aku. Tapi aku nggak mau ngomongin hal
itu dengannya, karena aku nggak mau jadi beban buat Kak Riko. Namun, hal tersebut
membuat aku merasa kehilangan sosok Kak Riko.
Dan aku pun pernah mengirim sebuah pesan buat Kak
Riko, aku menanyakan apakah dia masih sayang sama aku? Soalnya udah lama aku
merasakan dia telah hilang dari hidupku.
Suatu hari aku bertemu dengan Kak Riko di
jalan.
“Mau
kemana Kak ?”
“Belanja.
Kalau Eka mau kemana?”
“Aku
mau pulang Kak.”
“Oh
iya, gimana sama Renonya?”
“Maksudnya
Kak?”
“Udahlah
Ka, nggak usah menutupi hal kayak gitu. Kakak tahu kamu, dan kakak udah kenal
akrab kamu. Jadi nggak ada yang perlu di tutup-tutupi dari kakak.”
Aku pun tersipu malu mendengar ucapan dari
Kak Riko.
“Jujur
aja ma kakak Ka.”
“Iya
Kak. Tapi aku nggak ada apa-apa sama dia.”
“Bukan
nggak ada, tapi belum.”
“Ah,
Kakak. Eka mau pulung dulu Kak.”
“Ya,
Kakak juga mau belanja.”
Aku pun berlalu meninggalkan Kak Riko.
“Kok Kak Riko bisa tahu ya?, ucapku dalam
hati.
Hari demi hari berlalu, suatu kebahagiaan
pun menghampiriku. Tanpa ku sangka-sangka, ternyata hari ini aku udah jadian
sama Reno. Tepat di hari terakhir aku ulangan semester.
“Cieh,
adikku kayaknya lagi bahagia nih!”
Sapa Kak Riko yang telah berada di
kamarku.
“Kak
Riko?”, ucapku tersentak kaget.
“Kenapa
kaget gitu Ka? Emang kakak setan?”
“Mirip
sih, hehehehe…..”
“Wich,
adik kurang ajar!”
“Hahahahaha,
ada apa Kak? Kok tumben?”
“Tumben?
Nggak salah tuh”
“Iya,
kalau nanya kok sering kan aneh Kak. Heheheheh….”
“Ya,
ya, ya.”
“Oh
ya Kak, hari minggu lancong yuk!”
“Kemana?”
“Ke
pntai Sanur, Kakak sama Ani, kalau aku sama…?”
“Reno
kan? Udah ke baca.”
“Bukan…”
“Terus
siapa?”
“Charleno
Diputra.”
“Sama
aja kali!”
“Sama-sama
ganteng.”
“Ya,
ya. Susah ngomong sama kamu Ka.”
“Hehe,
tapi mau kan Kak?”
“Ya
pasti mau dong Ka. Apa sih yang nggak buat adikku tersayang.”
“Lebay,
bilang aja punya kesempatan buat sama Ani.”
“Ya,
setidaknya begitulah .”
“Yes, aku jadi lancong.”, ucapku dalam
hatio.
Hari
Minggu pun tiba. Dan sesuai perjanjian, aku, Reno, Kak Riko dan Ani pun pergi
ke pantai Sanur.
“Wow,
keren ya.”, ucapku pada Reno.
“Ya.”
Sahutnya.
“Hm,
lihat tuch Kak Riko sama Ani.”, ucapku sambil menunjukkan kearah Kak Riko.
“Ya,
mereka cocok banget.”
Aku
dan Reno nggak mau kalah sama Kak Riko dan Ani. Kami pun bersenang-senang
dengan memainkan ombak. Walaupun sebenarnya aku takut dengan ombak, karena aku
trauma pernah terjatuh saat bermain ombak dan hamper aja aku di seret sama arus
ombak. Tapi Kali ini aku mencoba untuk memberanikan diri, karena Reno yang udah
mendampingi aku. Tiba-tiba Kak Riko memecahkan kesenanganku bersama Reno.
“Eka,
sini!”
“Apa
sih?”
“Sini
aja dulu.”
“Ya.”
Aku dan Reno pun menghampiri Kak Riko dan
Ani.
“Apa
sich Kak?”
“Foto
yuk!”
“Ayuk!”
Kak
Riko meminta bantuan kepada salah seorang yang berada di dekat kami saat itu.
Kami berempat pun mulai bergaya untuk mulai di foto. Di sebelah kananku Kak
Riko dan Ani, sedangkan di sebelah kiriku Reno.
Hm. Bahagia ku lalui hari-hariku kini. Karena
Reno juga the best menurut aku. Kak Riko dan Ani pun akur-akur aja. Moga-moga
aja hubungan mereka langgeng. Amien…………………………………………………………..
By:
Dhedhe
Riko, sesosok kakak yang begitu baik buat
aku. Dia selalu menemani aku dalam suka maupun duka. Dia juga selalu membantu
aku melewati masalah-masalah aku. Terutama masalah cinta.
Sebenarnya Kak Riko itu bukanlah kakak
kandung aku. Tapi, aku sayang banget sama dia. Rasanya dia itu emang udah aku
kenal dekat dari kecil. Dia selalu mengerti dengan keadaan aku. Padahal saat
dulu aku dan dia masih di bangku Sekolah Dasar, aku dan dia musuh berat. Tapi
aku nggak nyangka aja, semakin kami beranjak remaja, aku dan dia malah jadi
akur dan dekat banget. Kalau ada masalah pasti aku selalu cerita padanya. Dan
seperti biasanya, dia akan memberikan aku solusi.
Sekarang aku udah duduk di bangku kelas 2
SMK. Sedangkan Kak Riko nggak melanjutkan sekolahnya, dan dia sekarang udah
bekerja di salah satu lembaga di desaku. Untung saja jarak rumahku dengan
rumahnya dekat. Jadi setiap ku mau curhat, aku bisa datang ke rumahnya.
Suatu hari, aku pun dilanda galau. Datang dari
sekolah aku langsung pamitan sama Ibuku dan menuju rumah Kak Riko.
“Kak
Riko…”, teriakku saat sampai dirumahnya.
“Ada
apa sich adikku sayang?”, jawab Kak Riko dari dalam kamarnya.
“Ganggu
nggak Kak?”, tanyaku padanya.
“Nggak
kok. Udah masuk aja.”, jawab Kak Riko.
Aku pun langsung menuju kamar Kak Riko.
“Ibunya
kakak dimana?”
“Lagi
di ladang. Eka kesini mau cari Ibunya Kakak?”
“Nggak
sih Kak.”
“Terus
mau ngapain? Mau dibuatin tugas ya?”
“Nggak
ah Kak. Eka Cuma mau lancong aja.”
“Wich,
sejak kapan ya Adikku mau lancong ke sini?”
“Ih
Kak Riko kok gitu. Aku kan sering kesini?”
“Iya,
kalau nggak belanja, minta dibuatin tugas, hahahahaha”
“Ya
udah deh, kalau gitu Eka mau pulang aja.”
“Hehe,
bercanda Ka. Gitu aja ngambek. Dasar anak kecil!”
“Ya,
akukan emang masih kecil Kak. Baru 10 tahun.”
“Ya,
tapi 5 tahun yang lalu.”
“Hehe,
ya ya ya.”
“Terus
mau ngapain kesini?”
“Mau
curhat nih Kak.”
“Oh,
ya udah.”
“Kok
ya udah sich?”
“Ya
terus mau ngomong apa lagi Ka.”
“Ih,
nggak seru!”
“Duh,
cantiknya adikku kalau lagi cemberut.”
“Nyebelin
ach!”
“Ya,ya
sekarang kakak serius dech. Emang kenapa adikku sayang ? Pasti gara-gara mantan
kamu itu lagi ya?”
“Ya
Kak, siapa lagi?”
“Emang
seganteng apa sih dia sampai buat kamu kayak gini? Pastinya kakak lebih ganteng
dong? Hehe.”
“Duh,
PD-nya, kakak sih 10 kali lipat lebih jelek dari dia. Hahahahahaha”
“Ya
dech. Jadi curhat nggak nich?”
“Jadi
dong Kak.”
Aku
pun langsung menceritakan semuanya pada Kak Riko. Semua masalahku dengan Arta,
kalau sebenarnya dulu Arta pacaran sama aku karena dia ingin manfaatin aku.
“Kurang
ajar banget sih itu cowok. Berani banget nyakitin hati adikku. Buat masalah
nih!”
“Udahlah
Kak, biarkan nanti Tuhan yang akan membalas sikapnya.”
“Sabar
ya dik. Masih banyak cowok lain yang lebih ganteng ya kayak kakak ini. Hehehe.”
“What?
Kayak kakak? Nggak dech!”
“Udah,
jangan dipikirin ya Ka. Ntar kamu sakit lagi. Mending belajar yang rajin, biar
sukses.”
“Ok
kak. Oh ya, gimana hubungan kakak sama Ani?”
“Baik-baik
aja kok.”
“Oh
ya udah. Aku mau pulang dulu ya Kak. Udah malam.”
“Mau
kakak antar?”
“Nggak
usah Kak. Thank’z!”
Ku
berlalu dari rumah Kak Riko. Andai saja dia saudara kandung aku. Pastinya kan
seru.
Suatu
hari di sekolah, Ani, sahabatku yang juga merupakan pacar Kak Riko
menghampiriku dengan raut muka yang nggak seperti biasanya.
“Say,
aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Ngomong
aja say.”
“Jujur
aku nggak kuat pendam hal ini sendirian say.”
Aku
pun berbalik arah, kemudian memegang tangannya lalu menatap wajahnya yang
tampak sedih.
“Kenapa
say? Kamu berantem sama Kak Riko?”
“Nggak
say.”
Ani memegang tanganku lalu memperlihatkan
SMS dari Kak Riko padaku.
“What?
Ini bercanda kan say?“
“Ini
serius say. Awalnya pun aku berfikitr kalau dia membohongi aku. Tapi dia bilang
ini serius.”
“Terus,
kenapa dia nggak bilang sama aku say?”, ucapku sambil menangis.
“Dia
nggak ingin kamu tahu tentang sakitnya say. Tapi kamu janji ya, kamu nggak akan
bilang sama siapa-siapa.”
“Iya
say, aku janji.”
“Udah,
jangan nangis terus. Gurunya datang say.”
Aku menganggukkan kepalaku.
“Ku
mohon juga, kamu jangan bilang sama dia ya say.”
“Ya
say.”
Setelah
itu, Ani meninggalkan bangkuku dan kami pun mengikuti pelajaran sebagaimana
mestinya.
“Kenapa
ya Kak Riko nggak bilang sama aku?”, pikirku dalam hati.
Jujur,
sebenarnya semenjak Kak Riko pacaran sama Ani, aku merasa Kak Riko semakin jauh
dari aku. Dia nggak seperhatian dulu sama aku. Tapi aku nggak mau ngomongin hal
itu dengannya, karena aku nggak mau jadi beban buat Kak Riko. Namun, hal tersebut
membuat aku merasa kehilangan sosok Kak Riko.
Dan aku pun pernah mengirim sebuah pesan buat Kak
Riko, aku menanyakan apakah dia masih sayang sama aku? Soalnya udah lama aku
merasakan dia telah hilang dari hidupku.
Suatu hari aku bertemu dengan Kak Riko di
jalan.
“Mau
kemana Kak ?”
“Belanja.
Kalau Eka mau kemana?”
“Aku
mau pulang Kak.”
“Oh
iya, gimana sama Renonya?”
“Maksudnya
Kak?”
“Udahlah
Ka, nggak usah menutupi hal kayak gitu. Kakak tahu kamu, dan kakak udah kenal
akrab kamu. Jadi nggak ada yang perlu di tutup-tutupi dari kakak.”
Aku pun tersipu malu mendengar ucapan dari
Kak Riko.
“Jujur
aja ma kakak Ka.”
“Iya
Kak. Tapi aku nggak ada apa-apa sama dia.”
“Bukan
nggak ada, tapi belum.”
“Ah,
Kakak. Eka mau pulung dulu Kak.”
“Ya,
Kakak juga mau belanja.”
Aku pun berlalu meninggalkan Kak Riko.
“Kok Kak Riko bisa tahu ya?, ucapku dalam
hati.
Hari demi hari berlalu, suatu kebahagiaan
pun menghampiriku. Tanpa ku sangka-sangka, ternyata hari ini aku udah jadian
sama Reno. Tepat di hari terakhir aku ulangan semester.
“Cieh,
adikku kayaknya lagi bahagia nih!”
Sapa Kak Riko yang telah berada di
kamarku.
“Kak
Riko?”, ucapku tersentak kaget.
“Kenapa
kaget gitu Ka? Emang kakak setan?”
“Mirip
sih, hehehehe…..”
“Wich,
adik kurang ajar!”
“Hahahahaha,
ada apa Kak? Kok tumben?”
“Tumben?
Nggak salah tuh”
“Iya,
kalau nanya kok sering kan aneh Kak. Heheheheh….”
“Ya,
ya, ya.”
“Oh
ya Kak, hari minggu lancong yuk!”
“Kemana?”
“Ke
pntai Sanur, Kakak sama Ani, kalau aku sama…?”
“Reno
kan? Udah ke baca.”
“Bukan…”
“Terus
siapa?”
“Charleno
Diputra.”
“Sama
aja kali!”
“Sama-sama
ganteng.”
“Ya,
ya. Susah ngomong sama kamu Ka.”
“Hehe,
tapi mau kan Kak?”
“Ya
pasti mau dong Ka. Apa sih yang nggak buat adikku tersayang.”
“Lebay,
bilang aja punya kesempatan buat sama Ani.”
“Ya,
setidaknya begitulah .”
“Yes, aku jadi lancong.”, ucapku dalam
hatio.
Hari
Minggu pun tiba. Dan sesuai perjanjian, aku, Reno, Kak Riko dan Ani pun pergi
ke pantai Sanur.
“Wow,
keren ya.”, ucapku pada Reno.
“Ya.”
Sahutnya.
“Hm,
lihat tuch Kak Riko sama Ani.”, ucapku sambil menunjukkan kearah Kak Riko.
“Ya,
mereka cocok banget.”
Aku
dan Reno nggak mau kalah sama Kak Riko dan Ani. Kami pun bersenang-senang
dengan memainkan ombak. Walaupun sebenarnya aku takut dengan ombak, karena aku
trauma pernah terjatuh saat bermain ombak dan hamper aja aku di seret sama arus
ombak. Tapi Kali ini aku mencoba untuk memberanikan diri, karena Reno yang udah
mendampingi aku. Tiba-tiba Kak Riko memecahkan kesenanganku bersama Reno.
“Eka,
sini!”
“Apa
sih?”
“Sini
aja dulu.”
“Ya.”
Aku dan Reno pun menghampiri Kak Riko dan
Ani.
“Apa
sich Kak?”
“Foto
yuk!”
“Ayuk!”
Kak
Riko meminta bantuan kepada salah seorang yang berada di dekat kami saat itu.
Kami berempat pun mulai bergaya untuk mulai di foto. Di sebelah kananku Kak
Riko dan Ani, sedangkan di sebelah kiriku Reno.
Hm. Bahagia ku lalui hari-hariku kini. Karena
Reno juga the best menurut aku. Kak Riko dan Ani pun akur-akur aja. Moga-moga
aja hubungan mereka langgeng. Amien…………………………………………………………..
By:
Dhedhe
20.13
AST Tour Driver Bali

Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar