Selasa, 08 Januari 2013

CERPEN KAKAKKU SAYANG


Selasa, 25 Desember 2012


KAKAKKU SAYANG

     Riko, sesosok kakak yang begitu baik buat aku. Dia selalu menemani aku dalam suka maupun duka. Dia juga selalu membantu aku melewati masalah-masalah aku. Terutama masalah cinta.
     Sebenarnya Kak Riko itu bukanlah kakak kandung aku. Tapi, aku sayang banget sama dia. Rasanya dia itu emang udah aku kenal dekat dari kecil. Dia selalu mengerti dengan keadaan aku. Padahal saat dulu aku dan dia masih di bangku Sekolah Dasar, aku dan dia musuh berat. Tapi aku nggak nyangka aja, semakin kami beranjak remaja, aku dan dia malah jadi akur dan dekat banget. Kalau ada masalah pasti aku selalu cerita padanya. Dan seperti biasanya, dia akan memberikan aku solusi.
     Sekarang aku udah duduk di bangku kelas 2 SMK. Sedangkan Kak Riko nggak melanjutkan sekolahnya, dan dia sekarang udah bekerja di salah satu lembaga di desaku. Untung saja jarak rumahku dengan rumahnya dekat. Jadi setiap ku mau curhat, aku bisa datang ke rumahnya.
     Suatu hari, aku pun dilanda galau. Datang dari sekolah aku langsung pamitan sama Ibuku dan menuju rumah Kak Riko.
“Kak Riko…”, teriakku saat sampai dirumahnya.
“Ada apa sich adikku sayang?”, jawab Kak Riko dari dalam kamarnya.
“Ganggu nggak Kak?”, tanyaku padanya.
“Nggak kok. Udah masuk aja.”, jawab Kak Riko.
     Aku pun langsung menuju kamar Kak Riko.
“Ibunya kakak dimana?”
“Lagi di ladang. Eka kesini mau cari Ibunya Kakak?”
“Nggak sih Kak.”
“Terus mau ngapain? Mau dibuatin tugas ya?”
“Nggak ah Kak. Eka Cuma mau lancong aja.”
“Wich, sejak kapan ya Adikku mau lancong ke sini?”
“Ih Kak Riko kok gitu. Aku kan sering kesini?”
“Iya, kalau nggak belanja, minta dibuatin tugas, hahahahaha”
“Ya udah deh, kalau gitu Eka mau pulang aja.”
“Hehe, bercanda Ka. Gitu aja ngambek. Dasar anak kecil!”
“Ya, akukan emang masih kecil Kak. Baru 10 tahun.”
“Ya, tapi 5 tahun yang lalu.”
“Hehe, ya ya ya.”
“Terus mau ngapain kesini?”
“Mau curhat nih Kak.”
“Oh, ya udah.”
“Kok ya udah sich?”
“Ya terus mau ngomong apa lagi Ka.”
“Ih, nggak seru!”
“Duh, cantiknya adikku kalau lagi cemberut.”
“Nyebelin ach!”
“Ya,ya sekarang kakak serius dech. Emang kenapa adikku sayang ? Pasti gara-gara mantan kamu itu lagi ya?”
“Ya Kak, siapa lagi?”
“Emang seganteng apa sih dia sampai buat kamu kayak gini? Pastinya kakak lebih ganteng dong? Hehe.”
“Duh, PD-nya, kakak sih 10 kali lipat lebih jelek dari dia. Hahahahahaha”
“Ya dech. Jadi curhat nggak nich?”
“Jadi dong Kak.”
     Aku pun langsung menceritakan semuanya pada Kak Riko. Semua masalahku dengan Arta, kalau sebenarnya dulu Arta pacaran sama aku karena dia ingin manfaatin aku.
“Kurang ajar banget sih itu cowok. Berani banget nyakitin hati adikku. Buat masalah nih!”
“Udahlah Kak, biarkan nanti Tuhan yang akan membalas sikapnya.”
“Sabar ya dik. Masih banyak cowok lain yang lebih ganteng ya kayak kakak ini. Hehehe.”
“What? Kayak kakak? Nggak dech!”
“Udah, jangan dipikirin ya Ka. Ntar kamu sakit lagi. Mending belajar yang rajin, biar sukses.”
“Ok kak. Oh ya, gimana hubungan kakak sama Ani?”
“Baik-baik aja kok.”
“Oh ya udah. Aku mau pulang dulu ya Kak. Udah malam.”
“Mau kakak antar?”
“Nggak usah Kak. Thank’z!”
          Ku berlalu dari rumah Kak Riko. Andai saja dia saudara kandung aku. Pastinya kan seru.
     Suatu hari di sekolah, Ani, sahabatku yang juga merupakan pacar Kak Riko menghampiriku dengan raut muka yang nggak seperti biasanya.
“Say, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Ngomong aja say.”
“Jujur aku nggak kuat pendam hal ini sendirian say.”
     Aku pun berbalik arah, kemudian memegang tangannya lalu menatap wajahnya yang tampak sedih.
“Kenapa say? Kamu berantem sama Kak Riko?”
“Nggak say.”
     Ani memegang tanganku lalu memperlihatkan SMS dari Kak Riko padaku.
“What? Ini bercanda kan say?“
“Ini serius say. Awalnya pun aku berfikitr kalau dia membohongi aku. Tapi dia bilang ini serius.”
“Terus, kenapa dia nggak bilang sama aku say?”, ucapku sambil menangis.
“Dia nggak ingin kamu tahu tentang sakitnya say. Tapi kamu janji ya, kamu nggak akan bilang sama siapa-siapa.”
“Iya say, aku janji.”
“Udah, jangan nangis terus. Gurunya datang say.”
     Aku menganggukkan kepalaku.
“Ku mohon juga, kamu jangan bilang sama dia ya say.”
“Ya say.”
     Setelah itu, Ani meninggalkan bangkuku dan kami pun mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya.
“Kenapa ya Kak Riko nggak bilang sama aku?”, pikirku dalam hati.
     Jujur, sebenarnya semenjak Kak Riko pacaran sama Ani, aku merasa Kak Riko semakin jauh dari aku. Dia nggak seperhatian dulu sama aku. Tapi aku nggak mau ngomongin hal itu dengannya, karena aku nggak mau jadi beban buat Kak Riko. Namun, hal tersebut membuat aku merasa kehilangan sosok Kak Riko.
Dan  aku pun pernah mengirim sebuah pesan buat Kak Riko, aku menanyakan apakah dia masih sayang sama aku? Soalnya udah lama aku merasakan dia telah hilang dari hidupku.
     Suatu hari aku bertemu dengan Kak Riko di jalan.
“Mau kemana Kak ?”
“Belanja. Kalau Eka mau kemana?”
“Aku mau pulang Kak.”
“Oh iya, gimana sama Renonya?”
“Maksudnya Kak?”
“Udahlah Ka, nggak usah menutupi hal kayak gitu. Kakak tahu kamu, dan kakak udah kenal akrab kamu. Jadi nggak ada yang perlu di tutup-tutupi dari kakak.”
     Aku pun tersipu malu mendengar ucapan dari Kak Riko.
“Jujur aja ma kakak Ka.”
“Iya Kak. Tapi aku nggak ada apa-apa sama dia.”
“Bukan nggak ada, tapi belum.”
“Ah, Kakak. Eka mau pulung dulu Kak.”
“Ya, Kakak juga mau belanja.”
     Aku pun berlalu meninggalkan Kak Riko.
     “Kok Kak Riko bisa tahu ya?, ucapku dalam hati.
     Hari demi hari berlalu, suatu kebahagiaan pun menghampiriku. Tanpa ku sangka-sangka, ternyata hari ini aku udah jadian sama Reno. Tepat di hari terakhir aku ulangan semester.
“Cieh, adikku kayaknya lagi bahagia nih!”
     Sapa Kak Riko yang telah berada di kamarku.
“Kak Riko?”, ucapku tersentak kaget.
“Kenapa kaget gitu Ka? Emang kakak setan?”
“Mirip sih, hehehehe…..”
“Wich, adik kurang ajar!”
“Hahahahaha, ada apa Kak? Kok tumben?”
“Tumben? Nggak salah tuh”
“Iya, kalau nanya kok sering kan aneh Kak. Heheheheh….”
“Ya, ya, ya.”
“Oh ya Kak, hari minggu lancong yuk!”
“Kemana?”
“Ke pntai Sanur, Kakak sama Ani, kalau aku sama…?”
“Reno kan? Udah ke baca.”
“Bukan…”
“Terus siapa?”
“Charleno Diputra.”
“Sama aja kali!”
“Sama-sama ganteng.”
“Ya, ya. Susah ngomong sama kamu Ka.”
“Hehe, tapi mau kan Kak?”
“Ya pasti mau dong Ka. Apa sih yang nggak buat adikku tersayang.”
“Lebay, bilang aja punya kesempatan buat sama Ani.”
“Ya, setidaknya begitulah .”
     “Yes, aku jadi lancong.”, ucapku dalam hatio.
     Hari Minggu pun tiba. Dan sesuai perjanjian, aku, Reno, Kak Riko dan Ani pun pergi ke pantai Sanur.
“Wow, keren ya.”, ucapku pada Reno.
“Ya.” Sahutnya.
“Hm, lihat tuch Kak Riko sama Ani.”, ucapku sambil menunjukkan kearah Kak Riko.
“Ya, mereka cocok banget.”
     Aku dan Reno nggak mau kalah sama Kak Riko dan Ani. Kami pun bersenang-senang dengan memainkan ombak. Walaupun sebenarnya aku takut dengan ombak, karena aku trauma pernah terjatuh saat bermain ombak dan hamper aja aku di seret sama arus ombak. Tapi Kali ini aku mencoba untuk memberanikan diri, karena Reno yang udah mendampingi aku. Tiba-tiba Kak Riko memecahkan kesenanganku bersama Reno.
“Eka, sini!”
“Apa sih?”
“Sini aja dulu.”
“Ya.”
     Aku dan Reno pun menghampiri Kak Riko dan Ani.
“Apa sich Kak?”
“Foto yuk!”
“Ayuk!”
     Kak Riko meminta bantuan kepada salah seorang yang berada di dekat kami saat itu. Kami berempat pun mulai bergaya untuk mulai di foto. Di sebelah kananku Kak Riko dan Ani, sedangkan di sebelah kiriku Reno.
Hm. Bahagia ku lalui hari-hariku kini. Karena Reno juga the best menurut aku. Kak Riko dan Ani pun akur-akur aja. Moga-moga aja hubungan mereka langgeng. Amien…………………………………………………………..

















By:  Dhedhe




     Riko, sesosok kakak yang begitu baik buat aku. Dia selalu menemani aku dalam suka maupun duka. Dia juga selalu membantu aku melewati masalah-masalah aku. Terutama masalah cinta.
     Sebenarnya Kak Riko itu bukanlah kakak kandung aku. Tapi, aku sayang banget sama dia. Rasanya dia itu emang udah aku kenal dekat dari kecil. Dia selalu mengerti dengan keadaan aku. Padahal saat dulu aku dan dia masih di bangku Sekolah Dasar, aku dan dia musuh berat. Tapi aku nggak nyangka aja, semakin kami beranjak remaja, aku dan dia malah jadi akur dan dekat banget. Kalau ada masalah pasti aku selalu cerita padanya. Dan seperti biasanya, dia akan memberikan aku solusi.
     Sekarang aku udah duduk di bangku kelas 2 SMK. Sedangkan Kak Riko nggak melanjutkan sekolahnya, dan dia sekarang udah bekerja di salah satu lembaga di desaku. Untung saja jarak rumahku dengan rumahnya dekat. Jadi setiap ku mau curhat, aku bisa datang ke rumahnya.
     Suatu hari, aku pun dilanda galau. Datang dari sekolah aku langsung pamitan sama Ibuku dan menuju rumah Kak Riko.
“Kak Riko…”, teriakku saat sampai dirumahnya.
“Ada apa sich adikku sayang?”, jawab Kak Riko dari dalam kamarnya.
“Ganggu nggak Kak?”, tanyaku padanya.
“Nggak kok. Udah masuk aja.”, jawab Kak Riko.
     Aku pun langsung menuju kamar Kak Riko.
“Ibunya kakak dimana?”
“Lagi di ladang. Eka kesini mau cari Ibunya Kakak?”
“Nggak sih Kak.”
“Terus mau ngapain? Mau dibuatin tugas ya?”
“Nggak ah Kak. Eka Cuma mau lancong aja.”
“Wich, sejak kapan ya Adikku mau lancong ke sini?”
“Ih Kak Riko kok gitu. Aku kan sering kesini?”
“Iya, kalau nggak belanja, minta dibuatin tugas, hahahahaha”
“Ya udah deh, kalau gitu Eka mau pulang aja.”
“Hehe, bercanda Ka. Gitu aja ngambek. Dasar anak kecil!”
“Ya, akukan emang masih kecil Kak. Baru 10 tahun.”
“Ya, tapi 5 tahun yang lalu.”
“Hehe, ya ya ya.”
“Terus mau ngapain kesini?”
“Mau curhat nih Kak.”
“Oh, ya udah.”
“Kok ya udah sich?”
“Ya terus mau ngomong apa lagi Ka.”
“Ih, nggak seru!”
“Duh, cantiknya adikku kalau lagi cemberut.”
“Nyebelin ach!”
“Ya,ya sekarang kakak serius dech. Emang kenapa adikku sayang ? Pasti gara-gara mantan kamu itu lagi ya?”
“Ya Kak, siapa lagi?”
“Emang seganteng apa sih dia sampai buat kamu kayak gini? Pastinya kakak lebih ganteng dong? Hehe.”
“Duh, PD-nya, kakak sih 10 kali lipat lebih jelek dari dia. Hahahahahaha”
“Ya dech. Jadi curhat nggak nich?”
“Jadi dong Kak.”
     Aku pun langsung menceritakan semuanya pada Kak Riko. Semua masalahku dengan Arta, kalau sebenarnya dulu Arta pacaran sama aku karena dia ingin manfaatin aku.
“Kurang ajar banget sih itu cowok. Berani banget nyakitin hati adikku. Buat masalah nih!”
“Udahlah Kak, biarkan nanti Tuhan yang akan membalas sikapnya.”
“Sabar ya dik. Masih banyak cowok lain yang lebih ganteng ya kayak kakak ini. Hehehe.”
“What? Kayak kakak? Nggak dech!”
“Udah, jangan dipikirin ya Ka. Ntar kamu sakit lagi. Mending belajar yang rajin, biar sukses.”
“Ok kak. Oh ya, gimana hubungan kakak sama Ani?”
“Baik-baik aja kok.”
“Oh ya udah. Aku mau pulang dulu ya Kak. Udah malam.”
“Mau kakak antar?”
“Nggak usah Kak. Thank’z!”
          Ku berlalu dari rumah Kak Riko. Andai saja dia saudara kandung aku. Pastinya kan seru.
     Suatu hari di sekolah, Ani, sahabatku yang juga merupakan pacar Kak Riko menghampiriku dengan raut muka yang nggak seperti biasanya.
“Say, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Ngomong aja say.”
“Jujur aku nggak kuat pendam hal ini sendirian say.”
     Aku pun berbalik arah, kemudian memegang tangannya lalu menatap wajahnya yang tampak sedih.
“Kenapa say? Kamu berantem sama Kak Riko?”
“Nggak say.”
     Ani memegang tanganku lalu memperlihatkan SMS dari Kak Riko padaku.
“What? Ini bercanda kan say?“
“Ini serius say. Awalnya pun aku berfikitr kalau dia membohongi aku. Tapi dia bilang ini serius.”
“Terus, kenapa dia nggak bilang sama aku say?”, ucapku sambil menangis.
“Dia nggak ingin kamu tahu tentang sakitnya say. Tapi kamu janji ya, kamu nggak akan bilang sama siapa-siapa.”
“Iya say, aku janji.”
“Udah, jangan nangis terus. Gurunya datang say.”
     Aku menganggukkan kepalaku.
“Ku mohon juga, kamu jangan bilang sama dia ya say.”
“Ya say.”
     Setelah itu, Ani meninggalkan bangkuku dan kami pun mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya.
“Kenapa ya Kak Riko nggak bilang sama aku?”, pikirku dalam hati.
     Jujur, sebenarnya semenjak Kak Riko pacaran sama Ani, aku merasa Kak Riko semakin jauh dari aku. Dia nggak seperhatian dulu sama aku. Tapi aku nggak mau ngomongin hal itu dengannya, karena aku nggak mau jadi beban buat Kak Riko. Namun, hal tersebut membuat aku merasa kehilangan sosok Kak Riko.
Dan  aku pun pernah mengirim sebuah pesan buat Kak Riko, aku menanyakan apakah dia masih sayang sama aku? Soalnya udah lama aku merasakan dia telah hilang dari hidupku.
     Suatu hari aku bertemu dengan Kak Riko di jalan.
“Mau kemana Kak ?”
“Belanja. Kalau Eka mau kemana?”
“Aku mau pulang Kak.”
“Oh iya, gimana sama Renonya?”
“Maksudnya Kak?”
“Udahlah Ka, nggak usah menutupi hal kayak gitu. Kakak tahu kamu, dan kakak udah kenal akrab kamu. Jadi nggak ada yang perlu di tutup-tutupi dari kakak.”
     Aku pun tersipu malu mendengar ucapan dari Kak Riko.
“Jujur aja ma kakak Ka.”
“Iya Kak. Tapi aku nggak ada apa-apa sama dia.”
“Bukan nggak ada, tapi belum.”
“Ah, Kakak. Eka mau pulung dulu Kak.”
“Ya, Kakak juga mau belanja.”
     Aku pun berlalu meninggalkan Kak Riko.
     “Kok Kak Riko bisa tahu ya?, ucapku dalam hati.
     Hari demi hari berlalu, suatu kebahagiaan pun menghampiriku. Tanpa ku sangka-sangka, ternyata hari ini aku udah jadian sama Reno. Tepat di hari terakhir aku ulangan semester.
“Cieh, adikku kayaknya lagi bahagia nih!”
     Sapa Kak Riko yang telah berada di kamarku.
“Kak Riko?”, ucapku tersentak kaget.
“Kenapa kaget gitu Ka? Emang kakak setan?”
“Mirip sih, hehehehe…..”
“Wich, adik kurang ajar!”
“Hahahahaha, ada apa Kak? Kok tumben?”
“Tumben? Nggak salah tuh”
“Iya, kalau nanya kok sering kan aneh Kak. Heheheheh….”
“Ya, ya, ya.”
“Oh ya Kak, hari minggu lancong yuk!”
“Kemana?”
“Ke pntai Sanur, Kakak sama Ani, kalau aku sama…?”
“Reno kan? Udah ke baca.”
“Bukan…”
“Terus siapa?”
“Charleno Diputra.”
“Sama aja kali!”
“Sama-sama ganteng.”
“Ya, ya. Susah ngomong sama kamu Ka.”
“Hehe, tapi mau kan Kak?”
“Ya pasti mau dong Ka. Apa sih yang nggak buat adikku tersayang.”
“Lebay, bilang aja punya kesempatan buat sama Ani.”
“Ya, setidaknya begitulah .”
     “Yes, aku jadi lancong.”, ucapku dalam hatio.
     Hari Minggu pun tiba. Dan sesuai perjanjian, aku, Reno, Kak Riko dan Ani pun pergi ke pantai Sanur.
“Wow, keren ya.”, ucapku pada Reno.
“Ya.” Sahutnya.
“Hm, lihat tuch Kak Riko sama Ani.”, ucapku sambil menunjukkan kearah Kak Riko.
“Ya, mereka cocok banget.”
     Aku dan Reno nggak mau kalah sama Kak Riko dan Ani. Kami pun bersenang-senang dengan memainkan ombak. Walaupun sebenarnya aku takut dengan ombak, karena aku trauma pernah terjatuh saat bermain ombak dan hamper aja aku di seret sama arus ombak. Tapi Kali ini aku mencoba untuk memberanikan diri, karena Reno yang udah mendampingi aku. Tiba-tiba Kak Riko memecahkan kesenanganku bersama Reno.
“Eka, sini!”
“Apa sih?”
“Sini aja dulu.”
“Ya.”
     Aku dan Reno pun menghampiri Kak Riko dan Ani.
“Apa sich Kak?”
“Foto yuk!”
“Ayuk!”
     Kak Riko meminta bantuan kepada salah seorang yang berada di dekat kami saat itu. Kami berempat pun mulai bergaya untuk mulai di foto. Di sebelah kananku Kak Riko dan Ani, sedangkan di sebelah kiriku Reno.
Hm. Bahagia ku lalui hari-hariku kini. Karena Reno juga the best menurut aku. Kak Riko dan Ani pun akur-akur aja. Moga-moga aja hubungan mereka langgeng. Amien…………………………………………………………..

















By:  Dhedhe




0 komentar:

Popular Posts

 

APH 1 SMK Giri PendawaRendang is Designed by Ardi Setiawan for SMK Giri Pandawa Bloggerized by TKJ
Thanks to Semua Pihak Yang Telah Membantu | Distributed by APH1 © 2012