KARAKTER MASSA KINI
Oleh : I Putu Ardi Setiawan
Pendidikan merupakan elemen penting dalam pembangunan bangsa karna melalui pendidikan dasar pembangunan sebuah karakter seseorang dimulai. Karater merupakan perpaduan antara moral, etika dan akhlak. Pada dasarnya Pendidikan Karakter merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk mempertahankan jati diri yang berkwalitas untuk keberhasilan serta kesuksesan individu. Saat pendidikan karakter mutlak diperlukan, bukan hanya dibangku sekolah saja melainkan di rumah maupun dimasyarakat sosial yang berbeda budaya, adat-istiadat, ras dan a
gama.
gama.
Pendidikan saat ini cenderung lebih mengedepankan penguasaan ilmu kecerdasan yang hanya dapat mencetak manusia pintar tanpa karakter yang benar-benar berkwalitas, dalam pendidikan sekolah pada saat ini pengetahuan tentang kaidah/norma yang didapat dalam pendidikan moral atau etika dan akhlak disekolah-sekolah mulai ditinggalkan. Moral lebih menitikberatkan pada kwalitas perbuatan, tindakan atau tingkah laku manusia atau apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk, benar ataupun salah. Sedangkan etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk, berdasarkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu. Sedangkan akhlak tatananya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri manusia itu telah tertanam suatu keyakinan yang dimana keduanya (baik dan buruk) itu ada. Karenanya pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik maupun buruk dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
Pada kenyataannya sekarang sebagian orang mulai tidak memperhatikan lagi bahwa pendidikan tersebut berdampak besar bagi tingkah laku seseorang, padahal program pendidikan diharapkan mampu menghadirkan generasi yang berkarakter kuat, meski manusia memiliki karakter bawaan, tidak berarti karakter tersebut tidak dapat dirubah, karna sesugguhnya karakter dapat dididik dan dibiasakan sejak dini. Perubahan karakter seseorang memerlukan suatu perjuangan yang berat dan diperlukan suatu latihan yang terus-menerus untuk menghidupkan nilai-nilai yang baik dan tidak terlepas dari faktor lingkungan sekitar.
Pentingnya budaya juga perlu dikembangkan disetiap satuan pendidikan adalah agar pembelajaran yang dijalani peserta didik guna mengembangkan potensi dirinya tidak lepas dari lingkungan dimana peserta didik berada terutama di lingkungan budaya. Sebab pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip tersebut akan menyebabkan peserta didik tercabut dari akar budayanya. Ketika hal ini terjadi, maka pendidikan hanya akan menghasilkan peserta didik yang tidak mengenal budayanya dengan baik.
Dengan demikian, perpaduan antara pendidikan budaya dan karakter dapat dimaknai sebagai proses pendidikan yang secara aktif mengembangkan potensi peserta didik melalui proses internalisasi dan penghayatan nilai-nilai yang menjadi kepribadian seseorang dalam bergaul di masyarakat dan mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera serta kehidupan yang bermartabat yang dapat menjadi keunggulan bangsa di masa yang akan datang. Pengembangan pendidikan budaya dan karakter harus dilakukan melaui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai dengan metode belajar dan pembelajaran secara efektif. Sesuai dengan sifat suatu nilai, pembudayaan pendidikan budaya dan karakter bangsa hendaknya merupakan usaha bersama antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Dari pengertian tersebut nampak bahwa pada saat ini pendidikan budaya dan karakter bangsa yang sarat dengan pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral dan argumen tersebut nampaknya sangat relevan untuk membangkitkan komitmen dan melakukan gerakan nasional yang merupakan cerminan kebutuhan akan pendidikan nilai-nilai di Indonesia pada saat ini.
Dalam era keterbukaan informasi akibat pengaruh globalisasi yang mempunyai faktor-faktor negatif, antara lain: mulai lunturnya nilai-nilai kebangsaan yang di anggap sempit seperti patriotisme dan nasionalisme yang dianggap tidak cocok dengan nilai-nilai globalisasi dan universalisasi. Akibatnya banyak kita temui para pelajar yang tidak memiliki pendidikan karakter yang kuat malah terlibat kedalam aksi tawuran yang semakin marak dibicarakan di media massa.
Selain itu, percepatan alih teknologi serta kemajuan sarana komunikasi dan transportasi merupakan dampak dari Globalisasi, namun munculnya sifat-sifat individual, prilaku yang menyimpang dari norma-norma agama dan lunturnya nilai-nilai kesopanan dalam masyarakat merupakan dampak negatif dari globalisasi. Sehingga timbul persoalan yang dihadapi bangsa saat ini seperti tawuran antar para pelajar, korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan, perkelahian masyarakat, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupan politik yang tidak produktif.
Namun masalahnya, kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak, dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran disekolah. Akibatnya sejak usia dini, sebagian besar anak-anak akan merasa “Bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “Memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”, sebagai anak yang kurang pandai. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter, dimana sejak dini anak-anak justru sudah “Dibunuh” rasa percaya dirinya.
Jadi, pendidikan karakter atau budi pekerti adalah suatu urgent untuk dilakukan. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP, dan SMU/SMK, maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Menurut para ahli dari emikir besar dunia, yaitu : Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “ Education Without Character” (pendidikan tanpa karakter). Dr. Martin Luther King juga pernah mengatakan : “ Intellingence plus Character.... that is the goal of true education” (kecerdasan plus karakter .... itu adalah tujuan akhir dari pendidikan yang sebenarnya). Theodore Rooselvet juga mengatakan: “ To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society “ (mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara bahaya kepada masyarakat.)
19.41
AST Tour Driver Bali
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar